mencari cara terbaik mengisi kehidupan bersama mBah Mann

PASAL-PASAL KEBAHAGIAAN

1.     Yang berkehendak dan menciptakan kehidupan adalah Allah, Tuhan YME.

2.     Segala fenomena perubahan adalah merupakan perbuatan Allah, Tuhan YME. (Tidak ada daun jatuh, angin berhembus, pasir bergulir, dll., kecuali diputuskan atau digerakkan oleh Allah). Karena sesungguhnya semua makhluk adalah dzat yang pasif.

3.     Apapun kejadian yang terekam oleh panca indera adalah kebenaran, karena semua merupakan perbuatan Allah, Tuhan YME.

4.     Pendapat, keinginan, dan keyakinan manusia juga merupakan perbuatan Allah. Jadi jika kita meyakini bahwa sesuatu akan terjadi, maka sebagaimana kita telah dengar firman Allah “kun fayakun”  praktis keyakinan kita tidak salah.

5.      Kehendak kita adalah iradhatullah, maka pastilah terjadi. Dengan kebesarannya kita diberi kesempatan untuk ikut menikmatinya.

PASAL-PASAL KEHIDUPAN versi mBah Mann

  1. Yang menghendaki dan menciptakan kehidupan adalah Allah, Tuhan Yang Maha Esa (YME).
  2. Manusia pada hakekatnya merupakan entitas pasif, yang tidak memiliki kuasa apa pun atas kehidupan ini, bahkan atas eksistensi dirinya sendiri seperti berkehendak, berpikir, merasa, berbuat, berinisiatif, dan sebagainya.
  3. Apabila terjadi manusia merasa bisa berbuat sesuatu atas kehendak dirinya, maka yang terjadi ada dua kemungkinan. Pertama, karena tidak memahami pasal 1, kedua karena memiliki kepahaman berbeda yang sangat diyakini kebenarannya.
  4. Merujuk pada ketiga pasal diatas, segala kejadian yang tersaksikan oleh panca indera manusia adalah kebenaran bagi manusia itu sendiri, karena semua bersumber dari Allah, Tuhan YME.
  5. Winning Mindset akan dimiliki siapa saja yang benar dalam mensikapi keempat pasal di atas.

REJEKI TERSEMBUNYI

Yang menghendaki kehidupan ini terjadi adalah Allah, oleh karena itu pastilah ada konsekwensi dibalik kehendak-Nya. Allah maha pengasih dan penyayang. Allah sebagaimana prasangka hamba-Nya dan apabila hamba-Nya berdoa, pasti akan Allah kabulkan. Barang siapa cerdas dalam mensikapi berbagai fakta tersebut, dialah orang yang sangat beruntung. Pecahkan rahasia rejeki tersembunyinya!

Semua kejadian yang tersaksikan oleh panca indera kita adalah kebenaran, karena merupakan perbuatan Allah. Pada hakekatnya manusia adalah mahluk yang pasif. Kesaksian bahwa kita merasa bisa berpikir dan bisa ikut terlibat pada berbagai kejadian, terutama yang berkaitan dengan amalan dirinya sendiri, termasuk merasa punya kuasa untuk memilih, adalah juga merupakan rejeki, tepatnya rejeki eksistensi. Maha suci Allah, segala puji hanya untu-Nya. Barang siapa cerdas memanfaat hasil kesaksiaannya, niscaya akan menjadi orang yang sangat bahagia.

Nah, sekarang bola ada di tangan kita. Semoga para pembaca dapat memahaminya. Amin. (more…)

Cara Hidup Terbaik

Cara hidup terbaik adalah menikmatinya. Karena kita hadir di dunia ini bukan kehendak kita, pastilah yang menghendaki kita hidup menginginkan kita hidup bahagia sebagaimana seorang pecinta ikan hias menghendaki si ikan hidup sehat dan bahagia.

Jika pun kita tidak bahagia, pastilah karena kita sudah terlanjur menanamkan konsep hidup yang belum benar di dalam mindset kita. Sedih, misalnya, tak lebih merupakan persepsi yang salah tentang pensikapan terhadap suatu kejadian.

Maka salah satu cara terbaik menjalani hidup ini adalah yakin bahwa sang pencipta kehidupan menghendaki kita hidup bahagia melalui apa pun fenomena yang terjadi di kehidupan ini. (mBah Mann)

KECERDASAN SPIRITUAL

Tulisan itu begitu jelas berbunyi, “Parkir khusus bagi yang berbelanja di toko X.”  Sementara tempat parkir di toko Y yang kami tuju penuh.  Memang begitulah kenyata-annya.  Dari sederet toko yang menjual oleh-oleh pilihan kami, toko Y lah yang paling banyak dikunjungi pembeli.

Saya perhatikan setiap toko menjual produk sama.  Setidaknya oleh-oleh yang kami cari ada di setiap toko di sana.  Dan bukan tidak mungkin rasa dan kualitas jajanan di toko X lebih baik dari pada di toko Y maupun yang lainnya.  Namun yang menarik untuk kita renungkan adalah Kenya-taan bahwa toko Y lah yang paling banyak diserbu pembeli.

Sepintas, terutama bagi orang awam, fenomena tersebut sama sekali tidak menarik untuk dibahas.  Namun, wahai pembaca yang budiman, saya mengundang Anda untuk mening-galkan sejenak pola pikir awam, menuju strata berpikir sedikit lebih tinggi.

Ditinjau dari sudut pandang akademis, sederet alasan logis telah berulang kali kita dengar tentang mengapa toko Y lebih laris disbanding yang lain.  Praktis, para pengamat akademis yang mempro-klamirkan dirinya sebagai kaum cendekiawan itu rata-rata memiliki alasan hampir sama, yaitu bahwa toko Y lebih ramai dikunjungi karena sang empunya memiliki kemampuan entrepre-neurial lebih tinggi dibanding yang lain.

Bagi kaum akademisi yang telah terdoktrin oleh konsep barat dalam menganalisa setiap fenomena kehidupan, sangat tidak mudah memahami bahwa sesungguhnya manusia tidak bias menciptakan amalannya sendiri.  Manusia hanyalah merasa bahwa dirinyalah yang mencip-takan semua ide entrepre-neurial itu.

Kita tak lebih dari produk ciptaan Allah SWT.  Mana mungkin sebuah produk mencip-takan program atau software untuk dirinya sendiri.  Jelaslah bahwa yang bisa mencip-takan program kerja bagi manusia ya sang penciptanya.  Keperkasaan-Nya lah yang menjadikan kita sulit menyadari bahwa ide itu ciptaan Allah.

Hikmah dari cerita ini, menurut saya, adalah sebuah pemahaman bagi manusia yang memiliki kecerdasan spiritual ekstra tinggi, bahwa toko Y lebih laris disbanding yang lain semata-mata karena Allah memu-tuskan demikian.  Dan bahwa fenomena itu hanyalah salah satu dari bukti bahwa setisp manusia memiliki riwayat hidup berbeda satu sama lain.

Tak satu pun manusia memiliki riwayat hidup sama dengan yang lain, bahkan si kembar sekali pun.  Seribu manusia seribu riwayat hidup.  Sejuta manusia sejuta riwayat hidup.  Satu milyar manusia satu milyar riwayat hidup.  Maka, lucu, bodoh, dan konyol rasanya jika manusia menyom-bongkan dirinya atas yang lain karena merasa memiliki kelebihan disbanding orang lain.  Bukankah ide cemerlang itu prestasi Allah?  Mengapa dianggap prestasi manusia?  (Wasi Darmolono, Surya Global )