Membangun Mindset Pemenang

Posted by Wasi Darmolono | Posted in Ikhtiar | Posted on 16-07-2016

0

Disamping jasmani, menurut berbagai referensi ilmiah, manusia memiliki elemen kehidupan lain yang populer disebut dengan istilah ruhani. Di dalam elemen ruhani terbentang dua alam yakni alam sadar dan alam bawah sadar. Alam sadar, oleh para cendekia-wan disebut sabagai alam kehendak bebas (free will), sedangkan alam bawah sadar adalah derivasi elemen ruhani yang hanya memiliki sifat melayani dengan penuh ketaatan. Ketika diperintah oleh alam sadar, ia hanya tidak pernah menolak karena hanya memiliki bahasa jawaban Yes, Sir! Alam bawah sadar bisa kita pahami dengan misalnya mengamati perilaku manusia, termasuk diri kita sendiri, misalnya saja, sehabis nonton film kung fu tidak sadar kita merasa seolah-olah menjadi pahlawan yang siap membela kebenaran.

Alam bawah sadar atau subconscious sphere oleh Gerry diibaratkan sebagai sawah, alam sadar atau conscious sphere sebagai petani, dan hasil kerja petani disebut mind-set  Dalam kehidupan sehari-hari mindset teraplikasi-kan dalam bentuk perilaku atau habit. Dalam pengertian umum  alam sadar disebut juga akal atau pikiran sehat kita.

Ibarat bertani, Ikrar Harian merupakan langkah sang petani mengelola sawah itu. Ikrar Harian (IH) adalah proses menanam.  Dengan akal sehat kita tanamkan  nilai-nilai, pengertian tentang hidup, definisi tentang berkarya, prinsip-prinsip mencari rejeki, konsep keber-hasilan dan lain-lain agar kita memetik perilaku atau habit yang berkualitas dengan keyakinan kelak membuahkan hasil berupa rejeki yang halal.

Materi ikrar harian ini merupakan ramuan seluruh potensi kehidupan manusia yaitu potensi intelektual, emosional, dan spiritual.  Eksistensi alam ini memiliki dua sifat yaitu ujud dan ghaib.  Salah satu ciri-ciri orang iman adalah per-caya kepada hal-hal yang ghaib.  Kedua sifat alam tersebut harus kita kelola apabila kita ingin mencapai keberhasilan.  Mengelola alam nyata dengan memanfaatkan potensi akal kita, sedang-kan mengelola alam ghaib dengan pendekatan spiritual yaitu melalui meng-uasai al Qur’an dan as Sunnah.

Pelajari dulu butir-butir materi ikrar berikut ini sebaik-baiknya, kemudian hayati maknanya dan bacalah berulang kali sampai merasa cukup.  Ada baiknya apabila beberapa butir yang dianggap penting dibaca lagi di kemudian hari. Dengan tidak meninggal-kan dzikir harian anda seperti yang diajarkan Rasulullah SAW, insya Allah nilai-nilai yang terkandung di dalam butir-butir ikrar tersebut akan tertangkap oleh alam bawah sadar dan membangun mindset baru anda dan pada gilirannya nanti berpengaruh positif pada perilaku anda.

IKRAR 1

Laailahaillallah

 Aku meyakini bahwa aku dan kehidupan ini ada karena ada yang menciptakan. Keyakinanku mengatakan bahwa Allah swt lah sang pencipta itu. Oleh karena itu aku meng-akui dan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang benar dan berhak untuk disembah melainkan Allah.

IKRAR 2

Muhammad Rasulullah

Untuk menjelaskan alasan penciptaan-Nya Allah swt telah mengutus seorang hamba terbaik-Nya. Aku telah mende-ngar bahwa Muhammad SAW lah sang utusan itu. Dan aku pun mengakuinya tanpa ragu. Oleh karena itu aku juga  bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. 

IKRAR 3

Aku Berserah Diri Kepada Allah

Kehadiranku bukanlah kehendakku sendiri melainkan kare-na kehendak Allah swt dan aku yakin bahwa Allah mencip-takan aku dan kehidupan ini tidaklah sia-sia. Oleh karena itulah aku berserah diri kepada Allah dan ridha dengan segala ketetapan-Nya.

IKRAR 4

Al Qur’an Pedoman Hidupku

Aku bersyukur atas diturunkannya kitab suci al Qur’an yang berisikan firman-firman Allah yang menjelaskan ten-tang untuk apa aku dan kehidupan ini diciptakan, apa yang harus dilakukan, cara beribadah, beramal dan lain-lain sesuai dengan kehendak-Nya.

IKRAR 5

Islam Agamaku

 Allah memerintahkan agar aku mentaati-Nya dan mentaati rasul-Nya (Muhammad) serta mengikuti ajaran yang diba-wakannya (Islam).  Aku telah mendengar dan aku taat.  Ya Allah, tetapkanlah Islam sebagai agamaku dan berilah aku kemampuan untuk istiqomah dalam beribadah kepada-Mu.

IKRAR 6

Berdoa Adalah Senjata Hidupku

Allah swt berfirman, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan aku perkenankan.” Berdoa adalah ibadah dan perintah Allah.  Bagiku ini merupakan karunia yang harus aku syu-kuri dan amalkan. Janji Allah pasti benar. Alhamdulillah.  Ya Allah, jadikan aku orang yang beruntung.

IKRAR 7

Allah Selalu Bersamaku

Aku akan selalu mengingat-Nya agar hidupku tenang dan terarah karena lindungan dan petunjuk-Nya. Apapun ter-jadi atas seijin-Nya, termasuk yang berkaitan denganku, perilaku orang-orang di sekitarku pun tak lebih dari seka-dar menjalankan keputusan Alah terhadapku.  .

IKRAR 8

Bekerja Adalah Ibadah

Tiada aku diciptakan melainkan agar beribadah kepada Allah. Mencari karunia adalah perintah-Nya. Aku akan terus berikhtiar dengan ikhlas sebagai manifestasi dari ke-taatanku kepada-Nya. Masa depanku tergantung pada apa yang aku lakukan saat ini. Tiada detik berlalu sia-sia.

IKRAR 9

Aku Bersyukur

Aku bersyukur atas segala anugerah yang diberikan Allah kepadaku. Segala puji hanya untuk Allah. Ya Allah, berilah aku kepahaman tentang kehidupan ini, karuniai aku sikap ridlo terhadap semua ketetapanmu dan sabar menghadapi cobaanmu.Sesungguhnya Engkau maha mendengar.

IKRAR 9

Aku Orang yang Peduli

 Aku peduli terhadap kehidupanku dan orang-orang di seke-lilingku. Aku harus berbuat sesuatu untuk kehidupanku dan kehidupan orang-orang sekelilingku. Aku harus bermanfaat bagi keluarga, kerabat, lingkungan dan agama. Ya Allah jadikan aku pemimpin bagi orang bertaqwa.

IKRAR 10

Aku Siap Menjadi Lebih Baik 

Aku senang mendengarkan nasehat dan belajar dari siapa-pun dalam rangka memperbaiki kehidupanku. Disiplin, rendah hati, khusuk  beribadah, kerja keras, dan melayani dengan ikhlas adalah komitmenku. Apapun, selama menda-tangkan keridhoan Allah akan aku lakukan sekuat tenaga..

IKRAR 11

Aku Harus Mandiri 

Aku siap melakukan apapun agar bisa hidup mandiri. Aku tabu bergantung pada orang lain. Aku siap bekerja keras.  Aku memilih hidup sebagai dermawan atau ahli shodaqoh dari pada hidup sebagai peminta-minta. Bagiku tangan di atas lebih baik. Cukuplah Allah sebagai Penolongku.

 IKRAR 12

Aku Pasti Bisa

 Aku yakin bahwa aku pasti bisa meraih apa yang aku inginkan dalam hidup ini. Dengan ijin Allah lantaran doa-ku insya Allah apapun yang kuinginkan, sebatas masih mungkin untuk diraih manusia, pasti kudapatkan dan tak ada alasan untuk tidak bisa.

IKRAR 13

Anything is Possible

 Kata dalam kamus kehidupanku yang sangat aku sukai adalah bisa. Apapun yang telah terbukti bisa dilakukan orang lain, insya Allah akupun bisa melakukannya. Hasil-nya terserah Allah karena keridhoan-Nya adalah segala-nya bagiku. Bersama-Nya tidak ada yang tidak bisa.

 IKRAR 14

Tidak ada Kata Gagal dalam Kamus Kehidupanku

There is nothing to lose alias tidak ada yang sia-sia.  Tidak ada kata gagal dalam kamus kehidupanku. Ikhtiarku kuniatkan dalam rangka mencari keridlaan Allah. Aku bersyukur jika berhasil dan tetap bersyukur jika Allah memutus-kan lain. Allah mengetahui apa-apa yang terbaik bagiku.

IKRAR 15

Hari Ini Harus Lebih Baik

Hari ini aku harus lebih baik dari kemarin. Kinerjaku ha-rus meningkat dari hari kehari hingga mencapai puncak-nya,karena kemerosotan kinerjaku merupakan perseden buruk bagi masa depanku. Kemalasan adalah ancaman ter-besar bagiku. Aku siap menjadi lebih baik.

IKRAR 16

Aku Akan Selalu Berpikir Positif

Aku selalu berpikir positif terhadap apapun fenomena yang terjadi di depan mataku. Semua kejadian memberi hikmah bagi diriku. Allah tidak mungkin dzalim kepada hamba-Nya yang beriman. Subhanallah. Maha suci Allah dari segala yang dzalim. Allah maha bijaksana.

IKRARA 17

Manusia Tidak Ada yang Sempurna

Aku terima dengan rasa syukur apa-apa yang Allah anuge-rahkan kepadaku. Allah mempunyai alasan menciptakan manusia berbeda satu sama lain. Tak sedikitpun aku ragu akan keadilan Allah. Aku yakin bahwa semua memiliki hak yang sama untuk menggapai keberhasilan dunia akhirat.

IKRAR 18

Kehadiranku adalah Solusi bagi Orang Lain

Aku bertekad menjadi bagian dari solusi dari setiap perma-salahan yang terjadi di lingkunganku. Aku ingin menjadi penolong bagi saudara seimanku dan menjadi pembela agamaku. Aku akan berusaha sekuat tenaga mewujudkan cita-citaku ini. Semoga Allah menolongku. Amin.     

IKRAR 19

Peluang Ada di Mana-mana

Aku melihat peluang ada di mana-mana, melalui setiap o-rang dalam setiap situasi. Aku bersedia belajar dari siapa-pun dan tidak tabu menduplikasi perilaku positif orang lain yang telah berhasil. Di mataku peluang ada dalam apapun kondisi dan situasi, dalam keadaan sulit sekalipun.

IKRAR 21

Hidup itu Berbagi Peran

 Aku sadar bahwa hidup di dunia harus siap berbagi peran.  Aku rela dengan apapun peran yang ditetapkan Allah un-tukku. Ya Allah berilah keberhasilan hidup di dunia mela-lui peranku, berkahilah kehidupanku dan jadikanlah aku pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.

IKRAR 22

Berjiwa Besar adalah Pilihanku

Aku berpikir dan berjiwa besar, sebesar kehendak Allah akan peranku dalam kehidupan ini. Aku yakin bahwa aku berhak dan bisa menjadi orang bermanfaat bagi kehidup-an. Ya Allah, karuniailah aku kemampuan untuk mewarisi kemuliaan hati Rasulullah salallahu alaihi wa salam.

IKRAR 23

Islam Adalah Solusi 

Tidak ada alasan bagi siapa saja  untuk menolak kehadiran Islam. Perjalanan hidup tidak selalu mulus seperti yang kita harapkan. Tidak ada solusi terbaik melainkan paham agama (Islam).

 IKRAR 24

Musibah Pasti Berakhir

 Selalu ada solusi dari setiap masalah. Allah menurunkan penyakit sekaligus obatnya.  Dimana ada racun disana ada penawarnya. Masalah pasti akan berakhir sebagaimana kesenangan pun ada batasnya. setelah kesulitan ada ke-mudahan. Allah melihat upaya dan kesabaranku.

IKRAR 25

Semua Orang Suka Padaku

 Semua orang menyukaiku. Semua orang tertarik bekerja sama denganku karena aku memiliki semua persyaratan untuk diterima di semua komunitas. Aku berhati mulia dan selalu berinisiatif menjadi bagian dari terselesaikannya setiap masalah. Semua bahagia atas kehadiranku.

IKRAR 26

Aku Siap Melayani

Aku selalu berupaya memahami orang lain terlebih dahulu sebelum minta dipahami. Kemudian mencoba menjadi ba-gian dari pemenuhan kebutuhannya. Aku berhasil karena aku sukses melayani orang lain. Prinsip hidupku adalah  siapa menanam kebajikan bakal menuai kesuksesan.

IKRAR  27

Ikhlas adalah Kunci Kebahagiaanku

 Kuniatkan seluruh amal perbuatanku dalam rangka mencari keridhoan Allah. Tiada kesuksesan melainkan menda-patkan keridhoan Allah. Aku sedang berproses menuju suk-ses yang haqiqi. Aku tanamkan semua benih kesuksesan.  Aku taburkan seluruh persyaratan demi meraih surga-Nya.

IKRAR 28

Setiap Detik Momentum Keberhasilanku 

Setiap detik adalah kesempatan bagiku untuk menambah bekal menghadap Allah. Setiap detik harus bermanfaat ba-gi perkembangan diriku. Setiap detik harus bernilai bagi kehidupan, lingkungan, dan agamaku. Orang sukses ada-lah orang yang berhasil mengoptimalkan waktu hidupnya.

 IKRAR 29

Tidak Ada Kekuatan Selain dari Allah

 Aku percaya haqqul yaqin firman Allah sendiri bahwa Dia-lah tempat bergantung dan minta pertolongan. Tidak ada kekuatan melainkan atas ijin-Nya. Orang lain di sekitarku  tak lebih hanyalah sekadar menjalan keputusan Allah agar berbuat dan berperilaku begini dan begitu. Semua itu kuya-kini sebagai bagian dari kesempurnaan riwayat hidup dan peranku dalam kehidupan.

IKRAR 30

Aku Melihat Potensi pada Apapun Situasi

Aku tak mau mendahulukan kesenangan sesaat tetapi harus membayar dengan hilangnya kesempatan.  Dengan bermalas-malasan seseorang bukan hanya kehilangan kesempatan tetapi juga terancam menurunnya kualitas pengambilan keputusan.  Bagiku kemalasan lebih berbahaya dari kebodohan.

IKRAR 31

Akan Kubuktikan Ketaatanku 

Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga kaum itu merubah nasibnya sendiri.  Akan kubuktikan ketaatanku kepada Allah dengan bekerja keras mencari karunianya dan hasilnya aku serahkan kembali kepada Allah pengambil keputusan.  Aku yakin bahwa Allah akan memberikan keputusan terbaik untukku karena Allah maha menguasai dan mengetahui segala sesuatu.

**************

Baca dan hayati butir-butir ikrar harian di atas berulang-ulang setiap hari. Jangan lupa niatnya adalah memperbaiki mindset dan mengawalinya dengan membaca Basmalah, insya Allah dengan tanpa meninggalkan dzikir dan doa pagi-sore kita, Allah akan mengabulkan dan cita-cita kita bakal terwujud. Insya Allah metode ini tidak men-selisihi Al Qur’an dan As Sunnah. Dan lebih penting dari semua itu, Anda bisa membuat sendiri tema deklarasinya.

HIDUP adalah COBAAN

Posted by Wasi Darmolono | Posted in Tantangan Hidup | Posted on 15-07-2016

0

Di kala hati anda sedang sedih, kata Syifa’ur Rahman penulis buku Kala Hati Sedang Gelisah, di mana kesedihan itu kian menjadi-jadi lantaran dihadapkan pada per-masalahan yang tak kunjung usai, berupa kewajiban yang belum terbayang sedikit pun jalan keluarnya, maka ingatlah bahwa Anda sedang diperankan untuk menjalani lakon sebagai orang yang sedang berada pada posisi terpuruk dalam percaturan sosial-ekonomi-bisnis kehidupan.

Lakon tersebut memang cukup mudah untuk diucapkan namun amat berat ketika menjalaninya. Pada tiap tingkat keimanan senantiasa ada cobaan yang setara. Makin tinggi derajat keimanan seseorang semakin berat pula cobaannya. Dan percayalah pada saya tentang kebenaran fenomena itu meski pun belum mampu melogikakannya. Seorang petani tak mungkin memiliki permasalahan yang dipikul seorang gubernur. Satu hal yang terpenting diketahui adalah bahwa tingkat stress yang diderita manusia tidak ada kaitannya dengan bentuk per-masalahannya.

Kebahagiaan lebih terkait dengan masalah pensikapan, bukan keadaan. Perasaan tertekan (stress) seseorang lebih banyak berkaitan dengan kemampuan mengelola hati dan pikirannya. Itulah sebabnya mengapa upaya bunuh diri tidak didominasi oleh strata sosial-ekonomi tertentu. Seorang pemulung yang pandai mengelola emosinya cenderung lebih tenang hidup-nya dibanding seorang konglomerat yang berpendidikan tinggi sekali pun.

Membaca berbagai referensi dan juga pengalaman pribadi, saya simpulkan bahwa kemampuan mengelola emosi seseorang lebih banyak ditopang oleh kepahaman agama, terutama, sebagaimana yang saya pahami, Islam. Persoalan terbesar bangsa ini adalah lemahnya iman sebagai akibat dari minimnya kepahaman agama. Secara statistik tidak dipungkiri lagi bahwa delapan puluh lima penduduk Indonesia memeluk Islam. Namun kekafahan mereka dalam beragama masih sangat mem-prihatinkan.

Nampak sekali dan bisa kita rasakan, ternyata memang benar bahwa kecerdasan intelektual tak terkait sama sekali dengan kecerdasan spiritual. Saya pernah hidup di tengah-tengah masyarakat berpendidikan formal rendah namun le-bih merasakan ketenangan dan kebahagiaan hidup dibanding lingkungan berpendidikan dimana saya berada sekarang ini. Saya pernah iri kepada seorang buruh pembuat gerabah atau barang pecah belah di desa Kasongan Yogya-karta. Bapak berputera tiga tersebut memiliki wajah ceria meskipun setelah saya tanyakan berapa upah per bulannya tak lebih besar dari UMP. Lebih mencengangkan lagi ternyata bapak yang nyaris tak pernah bersih dari bercak tanah liat itu merasa bersyukur mendapat pekerjaan demikian karena kegiatan beribadahnya lancar.

Pada hakekatnya hidup adalah cobaan, istirahatnya musi-bah. Sebagian manusia dicoba dengan kelebihan harta dan kemudahan untuk dilihat sejauh mana mereka bisa bersyukur, sebagian yang lain dicoba dengan kekurangan harta dan kesulitan untuk dilihat sejauh mana mereka bersabar. Perlu kita ketahui bersama bahwa pada kenyataannya mereka yang diuji dengan kelebihan harta dan kemudahan cenderung gagal. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa da-lam perjalanannya pada peristiwa Isra’ Mi’raj, beliau me-nyaksikan sendiri, ternyata neraka lebih banyak dihuni oleh orang kaya dan wanita.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. (Al Ayat)

SISI INDAH MASALAH

Posted by Wasi Darmolono | Posted in Tantangan Hidup | Posted on 14-07-2016

0

Masalah terbesar manusia dalam kehidupannya adalah tidak memiliki masalah. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya kehidupan itu merupakan perjalanan serang-kaian proses penyelesaian satu masalah ke masalah berikutnya. Berita acara Nabi Adam a.s diturunkan ke bumi pun berisikan sebuah penetapan bahwa ia harus menjalani hukuman atas kesalahan-nya melanggar ketentuan Allah SWT. Sehingga, jika akhirnya seseorang semasa hidup merasa tidak punya masalah, sebenarnya ia sedang menyimpang dari kodrat kehidupan. Pernah atau sering merasa lega karena baru saja menuntaskan sejumlah per-masalahan bisa diterima, namun apabila kemudian ia melanjutkan kehidupannya, niscaya akan hadir lagi per-masalahan berikutnya. Seseorang boleh saja piawai dalam mengelola hati sehingga tampak seolah tidak memiliki masalah, silahkan. Yang penting untuk diingat adalah bahwa mengelola emosi atau hati tidak bisa diartikan sebagai peng-hapusan masalah.

Secara dhohiriytah, begitu kita membuka mata ketika ba-ngun tidur, pertanda bahwa kehidupan akan dilanjutkan, pastilah akan langsung berhadapan pada masalah penye-diaan energi untuk melangsung-kan proses kehidupan fisik yang menuntut adanya suplai makanan guna melang-sungkan proses metabolisme tubuh, yang berarti bahwa ia harus berbuat sesuatu agar sejumlah makanan tersedia. Kemudian berlanjut ke masalah psikologis, dan seterusnya.

“Tapi kan, sama-sama memiliki masalah, lebih enak jika jadi orang kaya, karena banyak permasalahan yang selesai dengan uanga.” Celetuk teman saya yang menganggap bahwa dirinya tak seberuntung orang lain karena tidak memiliki sejumlah uang.

Perasaan demikian dimiliki oleh siapa saja di tingkat apa pun strata ekonomi seseorang, termasuk si kaya dalam persepsi kawan saya tadi. Saya sendiri pernah merasa cemburu pada seorang buruh pembuah sovenir tanah liat yang nam-pak begitu enjoy-nya menjalani pekerjaannya, sementara, mulutnya tak mau berhenti menyanjung dan memuji keber-hasilan saya yang ia nilai dari penampaan material.

You are not Alone!

Saya kira tidak terlalu sulit untuk memahami bahwa setiap orang memiliki permasalahan yang relatif sama beratnya. Lihat dan dengarkan apa yang sedang terjadi di sekeliling kita. Kasus-kasus yang kini marak, misalnya tentang korup-si. Bisakah kita mengatakan bahwa para pejabat yang pada awalnya hidup serba mewah dan semua keinginannya terlayani kemudian semua terrampas dan akhirnya harus mendekam di balik jeruji besi sebagai fenomena biasa-biasa saja. Masih logiskah kita mengatakan bahwa para pasangan selebritis yang pada mulanya hidup bahagia selang bebera-pa tahun kemudian berantakan lantaran ternodai perseling-kuhan? Jika dua peristiwa yang berbeda tersebut belum memantapkan Anda bahwa setiap orang memiliki masalah yang relatif sama beratnya, mudah-mudahan cerita berikut ini bisa mambantu.

Belum lama ini terjadi tragedi heboh yang beritanya men-dominasi seluruh media masa. Beberapa nasabah bank de-ngan nilai tabungan yang bervariasi jumlahnya, mulai dari puluhan juta hingga milyaran. Jika ternyata tabungan mereka merupakan satu-satunya kekayaan yang mereka sim-pan, masih benarkah kita mengatakan bahwa beban derita mereka yang memiliki deposito puluhan juta lebih ringan dibanding mereka yang memiliki deposito bernilai mil-yaran? Tidak. Mereka sama-sama menderita. Jika bunuh diri dianggap pantas, maka mereka semua ingin bunuh diri lantaran sama-sama srtess.

Jadi, jelaslah kini bahwa berada strata sosial-ekonomi apa pun, dari rakyat jelata hingga konglomerat mau pun peja-bat, memiliki masalah yang relatif sama beratnya, sama-sama mendatangkan stress. Yang membedakan persoalan seseorang dengan yang lain adalah berntuk permasalahan-nya. Sehingga tidak aka jalan lain kecuali berlomba untuk bertahan dengan sikap sabar. Ingat bahwa Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar. Mari kita hadapi dengan kepala dingin. Toh, Kita tidak sendirian. Ternyata, mereka yang kelihatan settle, tampil seolah-olah everything is okey, bukan katena tidak memiliki masalah. Melainkan karena mereka sudah mampu mengelola hati dan pikirannya. Satu hal yang penting untuk diyakini adalah bahwa tidak punya masalah itu adalah masalah. Hidup adalah cobaan yang artinya sarat dengan masalah, istirahatnya ketika kita men-dapat musibah, dan akan berhenti ketika ajal tiba.

Lantas, bagaimana cara terbaik menghadapi setiap masalah yang datang silih berganti mengiringi perjalanan hidup kita? Insya Allah gampang, karena tidak ada masalah tanpa jalan keluar, tiada penyakit tanpa disertai obat di dunia ini. Itulah janji Allah dan Rasul-Nya. Selalu datang pagi setelah malam gulita, there is always silver lining at every cloud, setiap kesulitan pasti diikuti kemudahan. Maka, tidak ada jalan terbaik melainkan bersegera mamahami petunjuk Allah yang haq yang tak lain adalah Islam.

Dengan mengimani haqqul yaqin bahwa Allah tak kan ingkar janji, bahwa semua risalah kehidupan ini datang dari-Nya, bahwa Allah tempat bergantung dan minta perto-longan dan menanamkan prinsip bahwa cukuplan Allah tempat kita mengadu dan sebagai pelindung kita satu-satunya, pastilah hati kita menjadi tenang sehingga tetap bisa tampil elegan di masyarakat, dan yang paling penting dari semua itu, kita tetap bisa beribadah dan beramal salih di muka bumi ini dalam rangka membuktikan ketaatan dan kecintaan kita pada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Bacalah, dan Tuhanmulah yang maha pemurah, yang mengajar manusia dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al Alaq: 3-5)

Dirundung Masalah Super Berat

Posted by Wasi Darmolono | Posted in Tantangan Hidup | Posted on 13-07-2016

0

Dalam keadaan bebas dari masalah besar, adalah wajar jika kita enteng dan tanpa beban bicara tentang berbagai solusi permasalahan. Seolah-olah tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, memang tidak salah. Saya pun meyakininya tanpa ragu. Bukankah hal itu sesuai dengan firman Allah bahwa setelah kesulitan ada kemudahan?

Masalahnya bukan terletak pada percaya dan tidak percaya. Yang menjadi masalah di sini adalah bahwa pada kenyataannya ketika menghadapi permasalahan yang berat, apalagi sampai berlarut-larut, sulit rasanya untuk bisa berpikir jernih. Bahkan mendengar nasehat pun bisa muak dibuatnya. Penyelesaian masalah memang mudah ketika diucapkan,

Namun percayalah, betapa pun berat, tetap ada jalan keluarnya. Ingat bahwa firman Allah pasti benar. Allah tak mungkin ingkar janji. Berikuti ini beberapa resep menghadapi masalah berat. Cobalah mengerti meski pun saya tahu bahwa hal ini tidaklah mudah. Saya coba ketengahkan kasus yang sekiranya dapat mewakili permasalahan sejenisnya, misalnya terbelit hutang.

 Segala kejadian yang tidak menyenangkan di luar kem ampuan kita mengontrol disebut musibah. Musibah, bagi orang iman meyakini bahwa datangnya dari Allah. Orang iman juga meyakini bahwa apa pun yang datangnya dari Allah pastilah bermuara pada kebaikan. Orang iman yakin bahwa dalam rangka menguji keimanan seseorang Allah mendatangkan cobaan untuk mengetahui siapa yang tetap bersabar atasnya dan bertawakal kepada-Nya.

Sebagaimana telah kita bahas pada bab sebelumnya bahwa pada keadaan dan tingkatan apa pun manusia memiliki permasalahan yang relatif sama beratnya. Yang membedakan antara permasalahan satu dengan yang lain adalah bentuknya. Ketika masih muda, misalnya, hampir semua dari kita mengalami perasaan patah hati karena cita bertepuk sebelah tangan. Orang yang paling kita cintai ternyata bukan orang yang mencintai kita. Alih-alih mencintai kita sedalam cinta kita kepadanya, malahan mencintai orang lain setengah mati. Tidak sedikit diantara kita yang tidak mudah menerima kenyataan seperti itu. Waktu dan kedewasaan kita jugalah yang bisa menyelesaikan masalah remaja tersebut.

Terbelit hutang merupakan salah satu diantara beberapa musibah yang super berat, bahkan bagi orang beriman sekali pun, terutama ketika jalan keluar berupa penghasilan jauh tak seimbang dengan kewajiban yang harus dipenuhi, sementara penderitaan tersebut merupakan akibat dari ke-konyolan pengambilan keputusan di masa lalu, lebih-lebih hanya karena demi kebanggaan sesaat di mata orang lain. Tidak sedikit saudara kita yang mengalami penderitaan ini bermula dari over confident (kelewat percaya diri atau terlalu yakin) bahwa uang nudah dicari lantaran merasa memiliki segudang alasan untuk sukses.

Terlepas bahwa akhirnya kenyataan tersebut menyadarkan si penderita bahwa Allah-lah penentu keberhasilan kita, dan juga bahwa semua itu ada hikmahnya, tetap saja tidak mudah menghadapi musibah yang satu ini. Namun demikian bukan berarti tak ada jalan keluar. Belajar dari Wasi Darmolono dalam bukunya yang berjudul Winning Mindset tentang bagaimana mensikapi hutang, kiranya bisa mem-bantu secara psikologis agar terjaga dari keterpurukan yang lebih parah. Ikuti postingan di bawah ini. (to be continued)

Sesudah kesulitan ada kemudahan. (QS. Alam Nasyroh: 6)

 

Pensikapan Terhadap HUTANG

Posted by Wasi Darmolono | Posted in Tantangan Hidup | Posted on 12-07-2016

0

Entrepreneurial Perspective HUTANG

 Masih ingatkah anda berita tentang seorang presiden direktur sebuah perusahaan besar yang hidup bergelimangan kemewahan bersama seluruh karyawannya pada akhirnya menjadi penghuni lembaga pemasyarakatan karena ternyata ia menjadi obligor nomor wahid di negri ini dengan kuwajiban mengembali-kan aset negara bernilai trilyunan?

Masih ingatkah anda berita tentang bunuh dirinya seorang pengusaha terkenal dengan cara melompat dari lantai sebuah gedung bertingkat berketinggian kurang lebih lima puluh meter yang sebelumnya tak pernah terbayangkan bahwa orang sarat dengan kebesaran namanya harus meng-akhiri hidupnya dengan cara yang tidak sepantasnya?

Masih ingatkah anda berita tentang bermacam-macam pe-nyakit yang diderita oleh para public figure akibat stress alias tertekan oleh lingkungan sosialnya karena secara tidak langsung harus mempertahankan kehormatannya yang me-reka bangun ketika masih berjaya mendapat kemudahan dari Allah swt dengan melimpah ruahnya kekayaan mem-posisikan diri mereka di dalam jajaran elite di negeri ini?

Dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. Az Zukhruf:32)

Kita sering melihat, mendengar dan bahkan mengalami sendiri bahwa pada kenyata-annya perjalanan kehidupan manusia bak roda berputar.  Ada kalanya kita berada di atas di mana seolah-olah dewi keberuntungan sedang memihak pada kita sehingga setiap gerakan kita membuahkan hasil, semua jurus efektif dan semua doa mustajabah. Dan se-baliknya, kita pun sering menyaksikan dan merasakan sendiri bahwa ada kalanya kita berada di bawah.

Entrepreneur sejati memiliki sifat waspada ketika berada di atas dan tetap tenang ketika berada di bawah karena menyadari betul bahwa memang begitulah fenomena kehidupan. Oleh karena senantiasa terkendali hati dan pikirannya, entrepreneur sejati tidak memiliki kamus stress dalam buku harian kehidupannya. Pemenang sejati mampu memandang setiap fenomena kehidupan ini melalui perspektif multi-dimensional.

Entrepreneur sejati senantiasa berkata kepada dirinya sen-diri, ’Aku menyadari, karena keteledoranku mengelola uang aku menuai akibatnya. Sekarang keadaan keuanganku sedang defisit, sementara peng-hasilanku tidak menutup kewajibanku. Maka satu-satunya cara aku harus memasuki area bisnis dalam skala yang lebih besar, setidaknya dua kali lipat dari omset atau penghasilanku sekarang atau bahkan sepuluh kali lipat.  Saat ini keadaan finansialku sedang minus seratus juta. No problem, karena aku sedang memasuki area bisnis berskala satu milyard. Aku akan belajar dari orang lain yang telah mem-buktikan. 

 Pembaca yang budiman, apabila anda belum memasuki area berpikir seperti entre-preneur sejati di atas, maka yang terjadi mungkin akan berkata, ’Ah, itu terlalu bom-bastis, itukan salah satu cara menghibur diri. Ngomong me-mang gampang. Prakteknya tak semudah membalik telapak tangan!’

Sebelum anda membaca sampai selesai, wajar jika anda berkata demikian. Namun apabila anda sudah membaca buku ini dari awal sampai akhir dengan seksama, dan juga masih berkata demikian berarti buku ini memang perlu penyem-purnaan. Silahkan datang pada penulis buku ini, uang anda pasti dikembali-kan atau siapa tahu justru anda mendapat pencerahan!

Social Perspective HUTANG

Kekayaan dunia berapa pun besarnya adalah merupakan sebuah tetapan dan manusia seluruh dunia adalah penguasa kekayaan tersebut. Berarti titik equilibrium kekayaan setiap orang di dunia ini sebesar Jumlah kekayaan itu dibagi jumlah seluruh insan penghuni muka bumi ini.

Apabila kita misalkan besaran nilai titik equilibrium itu adalah X, artinya nilai kekayaan setiap orang  seharusnya sebesar X. Namun karena setiap orang pada dasarnya  adalah pelaku bisnis entah aktif atau pun pasif yang terjadi adalah nilai kekayaan setiap orang satu sama lain berbeda.  Yang terpenting untuk kita sadari adalah bahwa apabila sebagian penduduk dunia ini memiliki nilai kekayaan total X+A maka selalu terimbangi sebagian yang lain yang total nilai kekayaannya sebesar X-A.  Dengan demikian, pada dasarnya kondisi kekayaan kita berhubungan erat dengan kondisi kekayaan orang lain.

Ringkas cerita, nilai ekonomi aset dunia ini bersifat dalam konteks ekonomi makro disebut sebagai konstanta.  Berapa pun besarnya terlepas dari perubahannya nilai aset tersebut berada pada titik equilibrium atau titik keseimbangan, di mana apabila ada pihak yang berada pada tingkat kondisi ekonomi terpuruk, otomatis ada nilai keseimbangan di pihak lain yaitu berada pada kondisi ekonomi surplus.  Artinya, jika anda secara ekonomi berada pada kondisi minus atau berhutang sebesar sekian rupiah, maka otomatis ada pihak lain entah satu atau dua atau lebih yang mengalami kondisi ekonomi surplus yang nilai totalnya sebesar minus anda.

Sehingga, sebenarnya ketika anda berada pada posisi minus alias berhutang, secara sosial anda sedang berdiri sebagai pahlawan bagi seorang atau beberapa yang menikmati surplus akibat dari minus anda.  Dan penting untuk dipa-hami sesungguhnya seseorang yang mengalami kesulitan finansial secara de facto bukan suatu aib atau nilai negatif jika ditinjau dari kacamata sosial, dengan catatan ia tetap berkarya memberi kontribusi nilai bagi kehidupan ini se-cara proporsional sesuai dengan kemampuannya.

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. Al Hadiid: 22)

Justru sebaliknya, jika anda berada pada posisi surplus me-lebihi nilai kotribusi anda untuk kehidupan, sesungguhnya anda sedang menikmati kue yang melalui sistem ekonomi ini terampas dari orang orang yang kurang beruntung.  Le-bih kejam lagi apabila anda tidak sedang memberi kon-tribusi apa pun bagi kehidupan ini.  Dan pada kenyataan-nya tidak banyak di dunia ini orang yang memiliki kecer-dasan sosial sedemikian kritis terhadap fenomena kehi-dupan.

Kita tak usah heran melihat fakta bahwa dunia ini memang tidak fair.   Permainan di bidang apapun di dunia ini tdak akan pernah adil sebelum setiap insan menerap-kan hukum dari segala sumber hukum yaitu al Qur’an dan as Sunnah.  Jadi, wajarlah jika kita menyaksikan banyak orang yang tidak pintar-pintar amat namun kehidupan-nya jauh lebih sejahtera dibanding sebagian yang lain yang nyata-nyata memiliki segudang alasan untuk hidup mapan. 

Ditilik dari perpektif agama (Islam) sangat jelas bahwa hal demikian itu adalah perkara rezeki yang diatur oleh Allah swt sebagai pemegang otoritas mutlak.  Jangan lupa bahwa kita sedang meninjau melalui sudut pandang entreprenerial.  Lantas bagaimana sebaiknya sikap kita menghadapi feno-mena seperti ini?  Jawabannya jelas bahwa memang tidak ada pensikapan yang terbaik melainkan melalui pendekatan agama (Islam).  Secara sosial kita cukup adil jika berupaya untuk berkarya dan berusaha untuk memberi nilai yang setidaknya sepadan dengan kompensasi yang anda nikmati dari kehidupan ini.

 (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Al Hadiid: 23)

Satu hal yang tak kalah penting adalah kesadaran bahwa anda tidak sendirian.  Yang lebih terpuruk dari anda pun banyak.  Lihat berapa banyak obligor yang berkewa-jiban mengembalikan uang negara milyaran atau bahkan trilyunan.  Secara moral yang penting anda tetap memiliki rasa tanggung jawab dengan tetap berusaha sekuat tenaga dengan cara-cara yang halal sesuai kaidah hukum yang berlaku.  Jika toh akhirnya nanti tidak berhasil tidak harus lantas menyalahkan diri sendiri, karena anda hidup di dalam sebuah sistem ekonomi mikro dan makro.  Mudah-mudahan pensikapan secara spiritual berikut ini cukup menyelesaikan permasalahan yang sedang anda alami.

Spiritual Perpective HUTANG

 Hutang pada tingkatan si penderita kesulitan untuk mengembali-kan dapat dikategori-kan sebagai musibah.  Ditilik dari sudut pandang agama (Islam) kehadiran musibah da-lam perjalan hidup seseorang merupakan bagian dari dina-mika kehidupan yang juga merupakan bagian dari hukum Allah swt yang tidak beda dengan hukum perimbangan yang lain.  Ada siang ada malam, ada senang ada susah, ada benar ada salah, dan ada anugrah ada pula musibah.

Tidak ada manusia yang terbebas dari musibah.  Setiap ma-nusia pasti akan mengalami musibah.  Oleh karena itu me-mahami konsepsi musibah merupakan salah satu dari se-kian banyak alternatif penyelesaian masalah hidup terse-but.  Karena musibah pasti datang mau tak mau kita harus menghadapinya dan bukan menghindarinya.

Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. (QS. An Nisaa’: 79)

Musibah menurut al Qur’an san as Sunnah terjadi karena  tiga dimensi.  Pertama sebagai hukuman Allah swt atas pembangkangan manusia terhadap peraturan yang telah ditetapkan-Nya.  Dengan kata lain musibah tersebut terjadi sebagai akibat dari ulah sendiri berupa ketidak-taatan ter-hadap hukum Allah swt.  Misalnya musibah berupa terbelit hutang karena pernah berlebihan dalam membelanjakan uang untuk kepentingan-kepentingan yang kurang ber-maanfaat dan tidak produktif atau karena salah perhitungan dalam mengkalkulasi bisnis atau karena sebab yang lain yang pada dasarnya adalah akibat dari ulah sendiri.

Kedua sebagai penghapusan dosa.  Ketiga sebagai ujian untuk kenaikan derajad ketaqwaan di mata Allah swt seb-agaimana dialami oleh Rasulullah saw.  Manusia tidak me-miliki kontrol terhadap musibah dimensi kedua dan ketiga melainkan menghadapinya dengan penuh kesabaran.  Mu-sibah dimensi kedua dan ketiga ini merupakan ujud ke-cintaan Allah swt kepada hambanya yang beriman.  Barang siapa tetap tabah, sabar, dan tawakal menghadapi ujian ter-sebut maka akan dinyatakan lulus dan Allah swt meng-hadiahkan surga bagi mereka yang lulus.

Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya, (QS. Al Anfaal: 51)

Pensikapan terhadap musibah yang berupa terbelit hutang ada beberapa langkah. Yang pertama adalah mantapkan ke-yaqinan bahwa dengan beriktiar sambil berserah diri ke-pada Allah swt semua musibah pasti ada jalan keluarnya.  Ingat bahwa dibalik setiap kesulitan selalu ada kemudahan.  Yang kedua mengakui bahwa musibah tersebut terjadi sebagai akibat dari ulah sendiri sehingga wajib bertaubat dengan banyak-banyak beristighfar tanpa harus kehilangan sikap khusnudhan billah.  Yang ketiga menyerahkan urusan tersebut kepada Allah swt dengan penuh keimanan bahwa Allah swt adalah maha penyantun dan penyelesai segala urusan hambaNya yang beriman dan memohon perto-longan.  Dengan demikian hati men-jadi tenang.  Langkah keempat adalah meningkatkan penghasilan dengan cara mendesign ulang karier atau bisnis mengikuti beberapa kiat yang tersaji pada bab lain di buku ini.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemu-dahan, (QS. Alam Nashrah: 5)

 Kesimpulannya adalah bahwa terbelit hutang pada dasarnya merupakan musibah yang terjadi atas ijin Allah swt ter-hadap diri manusia.  Pada hakekatnya semua ketentuan yang ditetapkan Allah swt kepada kita, termasuk musibah, tidak ada yang buruk.  Bagi hamba-Nya yang beriman, ketika Allah swt memberi baginya nikmat, maka akan terasa olehnya kebaikan-kebaikan-Nya, dan ketika Allah swt memberinya musibah, sebenarnya Ia ingin memberinya hikmah.

Intellectual Perspective HUTANG

Hutang itu merupakan salah satu sebab mengapa roda ekonomi suatu negara berjala. Karena dengan berhutang kita dituntut selalu bekerja keras untuk memenuhi hajat orang lain.  Darimana penghidupan keluarga para karyawan perbankan jika bukan dari para penghutang?  Donald Trump, salah satu orang terkaya dunia ini, memandang sama terhormatnya antara orang yang memiliki aset satu juta US dollar dengan orang berhutang senilai satu juta US dollar.  Pemilik aset satu juta US dollar dihormati karena memang sepantasnya, penghutang satu juta US dollar diamankan kehidup-annya karena jika meninggal maka negara (khususnya dunia perbankan) kehilangan asetnya senilai satu juta US dollar.

Kadang-kadang atau bahkan cenderung sering, orang yang terbelit hutang nasibnya lebih terpuruk dibanding orang tengah mendapat musibah bencana alam.  Korban bencana alam entah gempa bumi atau banjir dan sebagainya biasanya meng-undang simpati orang lain yang mampu untuk menyumbangkan sebagian kekayaannya untuk mere-konstruksi kehidupannya. Sedangkan orang yang terbelit hutang hampir mustahil bisa menggugah hati banyak orang untuk membantu.

Pembaca yang budiman, pada dasarnya terbelit hutang adalah merupakan musibah yang sama beratnya dengan musibah-musibah yang lain, bahkan kadang-kadang lebih berat. Memang tidak mudah memahami bahwa terbelit hutang adalah musibah karena dianggap merupakan sebuah resiko pengambilan keputusannya di masa lampau.  Harus diingat bahwa kebodohan, keteledoran, kecerobohan pe-ngambilan keputusan karena ketidak mengertian akan akibatnya di masa mendatang itu juga musibah.  Pendek kata segala sesuatu yang terjadi diluar kemampuan seseorang untuk mengontrol bisa disebut musibah.

Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezekinya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri? (QS. Al Mulk: 21)

Mari kita fair saja dalam menilai, memandang dan men-sikapi kondisi ’terbelit hutang’ itu. Ditinjau dari kaca mata intelektual ternyata tidak ada yang salah.  Dengan memiliki rasa maklum terhadap kondisi ekonomi ketika roda ke-hidupan sedang berada di bawah, seandainya pun hal itu menimpa diri kita, dan nampaknya semua orang pernah mengalami, kita jadi bisa lebih terbuka dengan siapa saja. Kita tetap percaya diri tampil di masyarakat. Tanpa kesa-daran seperti ini niscaya kita bisa jadi merasa minder dan tersingkirkan dari lingkungan sosial.

Dan tetap harus diingat bahwa kehidupan yang berorientasi pada materi cenderung menghantarkan pelakunya ke alam kefakiran. Sering kita dengar orang yang menurut pandang-an umum tergolong the have masih saja merasa kurang ber-untung karena belum mendapatkan ini atau mencapai itu. Hampir bisa dipastikan setiap kali host Kick Andy menanyakan kepada pengusaha sukses yang hadir sebagai bintang tamunya tentang apa yang belum dicapai dalam hidup-nya, selalu mendapat jawaban bahwa banyak hal masih menjadi obsesi karena belum tercapai. Kalimat spontan yang meluncur dari mulut para selebriti kondang pun mensiratkan bahwa mereka memiliki permasalahan billing kredit berbagai propertinya. Seorang American Idol pun menjawab bahwa setidaknya sementara ia bisa membayar sebagian tunggaan kartu kreditnya ketika ditanya oleh host of Oprah Winprey entertainment tentang penghasilannya. Semua itu menunjukkan bahwa ternyata hutang adalah ma-salah yang diderita oleh semua orang.

Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapang-kan rezeki dan menyempit-kannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman. (QS. Az Zumar: 52)

Doa Kita PASTI Dikabulkan

Posted by Wasi Darmolono | Posted in Makna Kehidupan | Posted on 11-07-2016

0

Doa merupakan salah satu ibadah dan media komunikasi antara seorang hamba dengan Penciptanya. Doa memiliki andil yang sangat besar dalam membentuk ketenangan jiwa seseorang. Begitu pentingnya doa sehingga Rasulullah SAW pun pernah bersabda bahwa doa adalah senjata orang mukmin.

Doa merupakan perintah Allah sehingga barang siapa melakukannya akan dicatat di sisi-Nya sebagai hamba yang taat. Terlepas bahwa ganjaran sudah pasti didapat, doa terbukti secara ilmiah mencegah stress bagi yang melaksanakannya. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam berdoa adalah:

Pertama, harus meyakini haqqul yaqin  bahwa Allah tak mungkin ingkar janji, bahwa Allah akan meng-kabulkan doa hamba-Nya dengan cara yang sempurna, dengan skenario yang tidak berbenturan dengan hukum-Nya yang lain yang begitu perfect-nya sehingga logika pikiran kita tidak menjangkau. Allah mengetahui apa-apa yang ter-baik bagi hamba-Nya, sedangkan kita sendiri lebih banyak tidak tahu apa yang terbaik bagi kita.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, pa-dahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah: 216)

Kedua, pahamilah bahwa ketika kita berdoa, yang terjadi adalah bahwa keinginan kita ber-hadapan dengan kehendak Allah. Tentu saja yang terjadi adalah kehendak Allah. Namun kita harus yakin bahwa kehendak Allah pasti lebih baik dari keinginan kita. Sering, aku meminta kepada Allah segala sesuatu agar bisa menikmati kehidupan, tapi Allah memberi aku kehidupan agar bisa menikmati segala sesuatu.

Ketiga, ingat bahwa di hadapan Allah semua hamba memiliki akses yang sama, namun yang terjadi rasa percaya diri sebagian orang dipengaruhi oleh kondisi sosial-ekonominya. Misalnya, gara-gara tidak memiliki sejumlah uang, seseorang merasa tidak pantas untuk berdoa agar dianugerahi kemampuan untuk bisa pergi haji. Seolah-olah Allah tak mampu membantu. Hal demikian merupakan perbuatan syirik. Ingatlah selalu bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka pede sajalah untuk memohon apa saja yang antum inginkan.

Keempat, tepislah pendapat yang salah tentang kekuasaan Allah, bahwa karena dzat-Nya bersifat gaib seolah jika kita berdoa meminta sesuatu yang berujud nggak bakal dikabul-kan. Yang benar adalah bahwa karena Allah maha kuasa atas segala sesuatu maka boleh kok  kita memohon agar diberi mobil BMW, misalnya. Pantas dan tidak pantas hanyalah masalah mindset kita saja. Sebenarnya, ketika kita minta mobil BMW kemudian Allah mem-perkenan-kan mobil APV, pada saat itu juga Allah menjadikan hati kita ridha dengan mobil APV karena ke-sempurnaan-nya dalam menjawab doa hamba-Nya.

Saya terpana ketika ustadz Yusuf Manshur menjelaskan bagaimana Allah menjawab doa hamba-Nya dengan mencerita-kan kisah nyata yang dialami oleh salah satu santrinya.

Pada suatu hari di awal bulan syawal, hari yang sangat istimewa bagi umat Islam karena menjadi saat-saat bertemunya seluruh anggota keluarga dan para sanak famili, salah satu santrinya tiba-tiba tanpa rencana sedikit pun merasa sangat ingin pulang kampung sebagai-mana teman-teman santri yang lain. Dengan bekal keyakinan bahwa jika ia ber-doa kepada Allah niscaya akan terkabul, setelah seluruh propertinya siap, ia langkahkan kakinya menuju stasiun kereta api terdekat.

Ia sadar bahwa pada hari itu sudah tak mungkin bisa mendapatkan tiket. Namun kesadaran itu tak mampu merenggut keyakinannya bahwa Allah pasti akan memberikan jalan keluar lantaran doanya yang tiada henti memohon agar Allah berkenan mempertemukan dirinya dengan keluarganya di kampung. Tanpa mempedulikan hiruk pikuk penumpang yang memaksakan keluarganya untuk bisa terangkut meskipun harus melalui jendela kereta.

Ia berjalan terus menelusuri tepian rel hingga gerbong penghabisan. Tak disangkanya seorang masinis menawarkan dirinya ikut naik di penghujung kereta yang ternyata loko dari kereta tersebut. Di sana terdapat ruang  kosong untuk ditempatinya yang menjadi-kannya sedikit lebih beruntung dibanding penumpang lainnya. Tak lama kemudian kereta pun melaju kencang sebagaimana biasanya hingga sampai di kota tujuannya. Setelah meng-ucapkan terima kasih kepada masinis yang baik hati itu ia turun untuk bergabung dengan penumpang lain menuju pintu keluar stasiun dan singkat cerita bertemulah ia dengan sanak keluarganya. Rupanya, Allah telah mengabulkan doa santri itu dengan cara-Nya yang sempurna, sehingga yang ditolong tidak sempat menyadarinya.

Kita semua tahu bahwa yang berkuasa di dalam kereta itu adalah masinis. Kita pun tahu bahwa Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Allah berkuasa atas masinis, kereta, dan semua masyarakat pengguna sarana transportasi tersebut. Bukan hal yang mustahil bagi Allah ketika menolong hamba-Nya itu Ia datangkan kereta yang isinya ternyata para malaikat yang diujudkan sebagai manusia dengan berbagai perannya yang kemudian melalui proses yang wajar meng-hantarkan santri itu pulang ke kampung halamannya. Meskipun tidak mudah menangkap logika spiritual sang ustadz, jujur saja, saya terkesima mendengar ceritanya. Bagi Allah apa sih yang tidak mungkin?

Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan untukmu. (QS. Al Mukmin: 60)

 

Musibah Itu Ketetapan Allah

Posted by Wasi Darmolono | Posted in Tantangan Hidup | Posted on 09-07-2016

0

Rasanya kok mustahil Allah melepaskan begitu saja mahluk yang telah diciptakan-Nya. Sepertinya kok  tidak logis apabila gerak-gerik mahluk ini berjalan begitu saja tanpa pengawasan Sang Pencipta. Betapa sembrono kita jika berani mengatakan bahwa Allah alfa atau meleng dalam mengawasi mahluk-Nya. Terlalu Agung Asma Allah untuk disamakan sifat-sifat-Nya dang mahluk yang Dia ciptakan.

Tidak aneh bagi kita menyaksikan saudara kita membuat sesuatu kemudian dibuang, ditinggalkan, dan disia-siakan. Namun alangkah kurang ajarnya kita jika kemudian meng- analogikan bahwa Sang Maha Kuasa atas segala sesuatu memiliki sifat seperti mahluk ciptaan-Nya. Allah Maha Agung. Segala yang diciptakan-Nya tidaklah sia-sia. Semua perbuatan-Nya adalah mulia.

Dengan kata lain setiap gerak, aktifitas, dan perubahan yang terjadi pada alam seisinya ini tidak mungkin terlepas barang sedetik pun dari pengawasan Allah. Tidak ada sebiji zarah pun dari alam ini melainkan Allah mengontrol dinaimika kehidupannya. Mustahil ada meski sebesar atom tercecer dari kekuasaan Allah akan eksistensinya.

Selama ini kita terlena. Daya kritis kita tehadap fenomena kehidupan ini, meskipun kadang sangat sederhana, telah tertumpulkan oleh doktrin-doktrin pendidikan formal hasil karya manusia. Sampai-sampai kita tidak malu sedikitpun menjadi korban sesama ciptaan Allah. Bahkan tak sedikit diantara kita mengagungkan karya sesama manusia. Kita tidak sadar telah menghinakan diri dihadapan sesama mah-luk. Bagaimana mungkin akal ini lebih tinggi derajat dan kekuasaannya dibanding firman Allah.

Pembaca yang budiman, mari kita perangi mindset yang tersesat ini dan kembali kepada pemahaman yang benar tentang hukum kehidupan ini. Tidak ada sumber kebenanar melainkan datang dari sang maha kuasa. Ingat, bahwa yang bisa menjelaskan tentang sesuatu adalah pembuatnya. Begitupun kehidupan ini, tidak ada yang bisa menjelaskan tentangnya kecuali Allah subhanahu wata’ala.

Telusur punya telusur, setelah meyakini kebenaran firman Allah dalam Al Qur’an, kita dapati ternyata musibah yang terjadi merupakan bagian dari kehendak-Nya yang bahkan telah ditetapkan lima puluh ribu tahun sebelum kehidupan ini diciptakan.

Karena Dia yang menciptakan kita, maka terserah Allah-lah mau di-bagaimana-kan kita. Sehingga tidak ada jalan lain kecuali berserah diri kepada-Nya, berdoa agar diberi ketabahan, pahala atas musibah yang sedang terjadi, sambil selalu mengingatkan diri sendiri bahwa Allah tidak mungkin dhalim kepada hamba-Nya. (to be continued)

Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa-apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang beriman berserah diri. (QS. At Taubah: 51)

Mustahil Allah Mendhalimi Hamba-Nya

Posted by Wasi Darmolono | Posted in Tantangan Hidup | Posted on 08-07-2016

0

Hal pertama yang harus diingat ketika seorang hamba Allah mendapat cobaan adalah bahwa tidak ada kejadian di muka bumi ini kecuali Allah terlibat di dalamnya. Serta ingatlah juga bahwa disamping menguji keimanan hamba-Nya, Allah juga mengendaki hamba-Nya terbebas dari dosa ke-tika menghadap-Nya kelak. Dan tidak boleh dilupakan bahwa seluruh perjalanan hidup ini merupakan cobaan, dan istirahatnya adalah musibah. Karena, ketika kita mendapat musibah sakit, misalnya, sesungguhnya pada saat itu kenikmatan duniawi dan dosa diangkat dari diri kita, namun ketika sembuh kembali dari sakit, kenikmatan dikembalikan sedangkan dosa kita tidak dikembalikan, dan cobaan berjalan lagi. Bagaimana dengan musibah berupa terbelit hutang? Hmm .., keeciiill .. Tunggu di postingan berikutnya. Insya Allah. 

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja? (QS. Al Qiyamah: 36).

 

Dunia Menghamba, Surga Mendamba

Posted by Wasi Darmolono | Posted in Makna Kehidupan | Posted on 06-07-2016

0

Kenyataan paling logis di muka bumi ini adalah bahwa kehidupan ini tidak logis alias ghaib. Orang yang paling cerdas adalah dia yang lantang menyatakan pada dirinya dengan keyakinan seratus persen bahwa dunia ini mutlak ghaib. Sebelum sampai pada titik kulminasi keyakinan  seperti itu, maka berarti siapa pun dia sedang dalam perja-lanan menuju ke sana, entah sampai entah tidak.

Secara inderawi, seolah-olah kita terlibat dalam proses per-wujudan banyak hal di lingkungan kita. Namun sebenarnya hal yang demikian tak lebih sekadar kepahaman manusia yang merupakan bagian dari sistem hukum sang pencipta yang sempurna. Betapa pun seseorang merasa telah bekerja keras untuk memproduksi sebuah batu bata merah, misalnya, ia tak lebih hanyalah sebagi pelaku sebuah peran yang telah ditetapkan melalui sekenario yang sempurna dan didampingi sang sutradara yang maha mengarahkan. Begitu sempurnanya sekenario itu sehingga manusia, menghayati atau pun tidak akan perannya, tetap saja adegan demi adegan berlangsung tanpa cedera sedikit pun.

Pernah, suatu hari seorang kawan uring-uringan gara-gara merasa tidak mendapat keadilan dalam perusahaan tempat ia bekerja. “Saya ini ibarat jenderal diamanahi mengemban tugas-tugas kopral.” Katanya. “Berarti hak yang saya terima pun senilai kinerja kopral. Ini namanya tidal adil dalam memberi kesempatan pada saya untuk berkembang sesuai dengan kapasitas dan kompetansi saya. Ini betul-betul bertentangan dengan konsep EEO kependekan dari Equal Everyone Opportunuty.” Lanjut protesnya sambil menunjukkan kemampuannya di bidang ekonomi untuk menegaskan bahwa dirinya tidak pantas dibohongi.

Kecerdasan intelektualnya telah merampas kesempatan akalnya untuk menerima logika selain logika akademis yang selama ini terdoktrinasikan kedalam otaknya. Penyakit yang demikian telah diidap oleh smbilan puluh lima persen insan akademik. Kawan saya tersebut adalah satu diantara mereka. Bahkan, dulu saya sendiri juga menjadi korban doktrinasi pendidikan berkurikulum sekuler itu.

“Mas, semua orang disekitarmu, termasuk juga di perusahaan tempatmu bekerja, hanyalah pelaku keputusan Allah, entah berkaitan dengan kepentingan dan eksistensimu entah tidak.” Kata saya mencoba menawarkan sebuah wacana di luar kepahamannya. “Yang menjadikan kamu merasa tidak pernah puas dan bahagia, ya kesalah-pahamanmu itu. Lha wong  kamu paham atau tidak paham tetap saja terjadi demikian. Sekali-kali kamu tak bisa mendikte agar begini dan begitu sesuai keingnanmu.” Lanjut saya tak peduli bisa menerima atau tidak.

Pada dasarnya, perasaan kecewa seseorang sampai-sampai menimbulkan kemarahan, adalah karena tuntutaan pada kehidupan ini agar berbuat atau memberi sesuatu sesuai dengan keinginannya tidak terlayani. Padahal jika mau berpikir lebih jauh, sebenarnya kita masing-masing ini siapa sih? Seberapa istimewa saya dan Anda sehingga dunia ini harus tunduk kepada kita?

Tidak ada cara yang benar, menundukkan dunia ini, melainkan dengan memohon kemurahan sang maha kuasa atas segala sesuatu yang tak lain adalah Allah subhaanahu wata’ala. Dan pada gilirannya, tidak ada cara yang lebih baik bagi kita, menurunkan kemurahan Allah swt melainkan dengan mendatangkan ridlo-Nya. Lantas, bagaimana cara mendatangkan keridhoan-Nya? Tidak ada cara yang lebih baik dari mengikuti dan mentaati perintah-Nya.

Lalu, apa hubungan semua ini dengan judul Dunia Menghamba Surga Mendamba? Saya tahu beberapa pembaca tidak sabar melihat benang merah antara kisah kawan saya dengan judul yang heboh ini. Ha ha ha, sabar, berilah saya waktu untuk bernafas terlebih dahulu. Lha wong kadang ya sulit sih menuangkan apa yang saya pahami tentang kehidupan ini ke dalam tulisan. Sebelum melangkah jauh, pahami dulu bahwa keberadaanmu saat ini merupakan produk pola pikir dan pola tindakmu di masa lalu. Memang, kita tidak mungkin kembali ke masa lalu kemudian memperbaiki amalan kita yang buruk, tapi kita bisa mempersiapkan akhir yang indah dengan memulainya hari ini.

Saya memastikan bahwa dunia menghamba kepada kita kerena rejeki telah ditetapkan bagi kita. Jadi, meskipun kita cuek terhadap kehadirannya, apa-apa yang telah ditetapkan menjadi bagian kita tidak mungkin salah alamat. Yuk kita konsentrasi saja pada tugas utama kita hidup yakni beribadah kepada Allah. Senantiasa mengisi waktu kita dengan niatan yang benar dan laksanakan setiap kegiatan kita dengan cara-cara sesuai denga Al Qur’an dan AL Hadits. (mBah Mann Suryaglobal)

Ketahuilah, tidak ada kebutuhan bagi siapa pun setelah mendapatkan bimbingan Al Qur’an, dan tidak ada kecukupan bagi siapa pun sebelum mendapatkan petunjuk dari Al Qur’an. (Ali bin Abi Thalib)

Dasyatnya Energi Kasih Sayang

Posted by Wasi Darmolono | Posted in Makna Kehidupan | Posted on 05-07-2016

0

Pada suatu hari di bulan Ramadhan, beberapa sahabat sepakat menggelar acara buka puasa bersama di rumah saya. Semua anggota keluarga yang tidak sedang berkegiatan hadir dengan membawa apa saja yang sekiranya mendukung suksesnya acara pesta ibadah itu. Dengan suka rela, tak mempedulikan kerepotan dirinya karena harus mengusung anak istri dengan sepeda motor bebek tuanya, Pak Mulyono, demikian kami memanggil, berinisiatif membawa kelapa muda sebanyak satu tangkai yang berisi tujuh buah. Betapa gembira ekspresi wajahnya ketika ia menurunkan oleh-oleh untuk disumbangkan pada acara yang menjadi tradisi di bulan suci tersebut. Sementara yang lain andil pula dengan ujud kontribusi yang berbeda-beda. Pendek kata semua yang hadir berbuat sesuatu dengan penuh suka cita demi lancarnya buka bersama itu.

Saya baru saja turun dari mobil membawa galon aqua di atas pundak, ketika tiba-tiba dua balita berumur tiga dan empat tahun anak dari keluarga tamu menyambut dengan niatan membantu mengangkat galon bawaan saya. Begitu polosnya menawarkan tenaganya untuk mengangkat galon yang jauh lebih besar dan berat dari tubuh mereka. Keluguan dan ketulusannya menjadikan saya tak kuasa untuk tidak menuruti saja kemauan mereka.

Galon saya turunkan dari pundak karena harus merubah cara membawa sedemikian rupa sehingga anak-anak tadi bisa memeganginya seolah-olah ikut membantu mengang-kat. Dengan tubuh sedikit membungkuk, mau tak mau saya harus mengangkat galon tersebut dengan posisi kurang lebih lima sentimeter di atas permukaan tanah. Tidak sekedar repot, galon tersebut terasa lebih berat di banding dengan dibawa dengan mengangkatnya di atas pundak.

Sudah barang tentu, secara lahiriyah anak-anak tersebut tidak memberi bantuan apa-apa selain justru menambah repot. Namun ditilik dari sisi psikologis, mereka menjadikan saya rela sedikit lebih ribet dan berat menyadari bahwa tidak mungkin melepaskannya. Yang terjadi adalah, meskipun sedikit agak lama toh akhirnya sampai tujuan. Dan hal terpenting dapat kita petik sebagai hikmah adalah bahwa dengan kasih sayangnya, anak-anak itu menjadikan hati saya bahagia sehingga rela bersusah susah melayani mereka. Mereka tidak sama sekali mengangkat galon tersebut melainkan hanya menggunakan energi kasih sayangnya.

Saya yang bukan ayah dari anak-anak itu saja, terbujuk untuk menuruti kemauan mereka yang tidak masuk akal karena bisa dikatakan mustahil bagi mereka mengangkat galon itu. Dengan kasih sayang ternyata hal yang mustahil bagi mereka pun bisa terjadi. Bisa dibayangkan jika saya adalah orang tua mereka, tentunya lebih ridho melayani mereka dalam hal-hal yang lebih berat lagi. Ternyata memang betul bahwa kebahagiaan lebih sering terjadi ketika kita berbagi.

Pembaca yang budiman, kasih sayang Allah kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang seorang bapak kepada anak-anaknya, sehingga bisa kita bayangkan berapa besar penghargaan-Nya kepada siapa saja yang berhasil meraih ridho-Nya. Masih ingatkah kisah seorang wanita nakal yang masuk surga lantaran memberi minum anjing? Berapa besar penghargaan Allah kepada kasih sayang wanita kepada hewan pembawa najis itu? Itulah sebabnya saya termotivasi untuk berbagi melalui tulisan ini. Semoga bermanfaat. (mBah Mann Suryaglobal)

Berpegang teguhlah kalian pada tali Allah (Islam) dengan cara berjamaah, dan janganlah engkau bercerari-berai. (QS. Ali Imron: 103)